Rabu, 30 Juli 2008

Guru Sarjana tanpa kompetensi normatif? Primitif!!

Pendidikan secara keseluruhan di negeri ini sedang diusahakan untuk dapatmencapai tingkat kualitas tertinggi, setidaknya untuk ukuran orang Indonesia. Hal ini mengandung arti bahwa semua elemen terkait dengan pendidikan harus memeprsiapkan diri sebaik-baiknya.
Salah satu hal yang perlu dipersiapkan adalah tingkat pengetahuan, keterampilan terkait bidang pendidikan yang selama ini ditengarai menjadi salah satu penghalang peningkatan kualitas pendidikan di negeri ini.
Tetapi, selama ini yang menjadi kendala juga adalah pola menjaga hati dan diri yang ternyata masih belum dapat maksimal dari para guru, terutama yang merasa pendidikannya sudah tinggi, ternyata pola kehidupannya tidak berbeda dengan anak-anak yang masih mencari jati dirinya!
Beberapa orang bahkan jelas-jelas begitu narsisnya ingin menonjolkan dirinya sebagai orang-orang intelek padahal pada kenyataannya sama sekali tidak menunjukkan keintelektualitasnya, Justru menunjukkan secara jelas sebagai orang-orang yang tidak terkontrol nafsunya sebagai manusia tak berpendidikan!
Apakah seperti ini yang diharapkan?
Pendidikan memang diarahkan mencapai peningkatan kualitas dengan memberikan batasan bagi guru minimal sarjana (S-1) bahkan sejak gru TK sudah harus S-1. Tetapi, hal tersbeut sama sekali tidak dibarengi dengan persyaratan kometensi normatif yang bagus, sehingga banyak guru yang pongah dan sama sekali tidak mencerminkan sebagai pendidik.
BAgaimana jika hal seperti ini terjadi?
Apakah benar efektivitas persyaratan guru strata 1 atau Sarjana itu?

Selasa, 29 Juli 2008

Pelajaran Terbaik

Bahwa proses pendidikan dan pemelajaran jelas membutuhkan orang-orang yang setia dan mampu mendukung perjalanan proses. Jika hal tersebut tidak dilakukan, maka sudah pasti pendidikan dan pemelajaran justru menajdi bumerang bagi yang melakukannya, sebab mereka tidak mengetahui kebenaran dan keuntukkan dari segala aspek yang dipelajarinya.
Seperti yang terjadi di Tembelang, sebuah Kota Kecamatan di Jombang, yang beberapa hari ini menjadi topik utama dalam setiap pembicaraan, baik di surat kabar maupun di televisi, apalagi di radio. Wah, pokoknya tiada hari tanpa membahas tentang Ryan.
INilah pendidikan dan pemelajaran terbaik bagi semuanya, bahwa pergaulan harusnya sangat kita seleksi dan benar-benar diantisipasi terhadap segala hal negatif yang pasti terjadi diantara kita. Tidak ada salahnya kita bergaul, tetapi setidaknya kita harus mengetahui hal-hal yang harus dan hal-hal yang tidak harus, bahkan yang dilarang oleh segala macam hukum kehidupan
POla pergaulan yang sedemikian bebas di antara anak-anak kita atau dis ekitar kita sangat emmungkinkan untuk terjadinya penyimpangan-penyimpangan yang selanjutnya berpotensi untuk terjadinya hal-hal tidak diinginkan.
Dan, biasanya kita hanya dapat mengeluh dan menyesal di kemudian harinya!
Duh, kalau saja penyesalan ada di depan, sebelum kita melakukan kegiatan, tentunya semua hidup secara damai!

Sabtu, 26 Juli 2008

Anak-anak Kita Kehilangan Kesempatan Belajar

Saat aku melewati jalan Empunala dan belok menuju ke jalan Gajah Mada, aku betul-betul merasakan betapa negeri ini masih belum dapat menguraikan pesan leluhur untuk anak bangsanya sendiri.
Bagaimana tidak!?
Saat itu, aku ada keperluan ke kantor dinas untuk mengumpulkan berkas-berkas penting terkait dengan kenaikan pangkat. Saat lampu merah menghadangku di perempatan empunala-gajah mada itu, aku benar-benar tidak habis pikir.
Disaat itu, beberapa orang anak-seusia sekolah- ternyata begitu tenang berlalu lalang diantara kendaraan yang berhenti menunggu lampu berubah hijau.
Mereka langsung menadahkan tangan ke semua pengendara yang terhenti disitu.
Duh, ternyata mereka meminta-minta di jalan, di perempatan jalan tersebut, padahal aku yakin sekali mereka itu semua masih dalam usia sekolah dan sekarang masih jam sekolah!
Kutanya salah satu dari mereka, tetapi tidak menjawab, malah semakin menjauh dariku!
Duh, rasanya aku pingin sekali mempunyai sebuah wadah bagi mereka sehingga mempunyai waktu untuk belajar bersama mempersiapkan masa depan lebih baik, setidaknya meningkatkan kualitas diri mereka.
Saat aku panggil lagi anak tersebut, dia tidak kearahku tetapi justru semakin menjauhiku dan lampu mereha berubah menjadi hijau, maka akupun melaju, meninggalkan galau di dalam hati. Kapan negeri ini berkembang jika anak bangsanya menjadi peminta-minta?

Jumat, 25 Juli 2008

Sertifikasi untuk mengukur kelayakan guru sebagai tenaga profesional

Pendidikan di sekolah kejuruan menuntut orang-orang, baik guru maupun anak didik yang selalu sigap terhadap segala perkembangan kehidupan. Dengan kesigapan tersebut, maka diharapkan proses pemelajaran tidak mengalami kestatisan apalagi kemunduran.
SEkolah kejuruan memberikan proses pemelajaran berbasis teknologi yang sedang dan akan diterapkan di dalam kehidupan bermasyarakat, sehingga untuk hal tersebut dibutuhkan orang-orang yang selalu siap menghadapi dan seklaigus menjawab tantangan yang selalu datang dan menghadang setiap langkah kehidupan. Kejuruan atau lebih tepatnya teknologi di dalam kehidupan kita adalah sesuatu yang sangat dinamis, sedinamis kehidupan ini sendiri.
Ada seorang tokoh mengatakan bahwa kehidupan adalah perbuatan. Apalah artinya hidup jika sama sekali tidak melakukan perbuatan sesuai dengan bidang yang ditanganinya? Begitu juga di dalam proses pendidikan, apalah artinya peran sebagai guru jika ternyata hanya omong saja?! banyak omong sedikit kerja. no action talk only! justru seharusnya seorang guru adalah less talk, do more!
Sementara ini, kita melihat kenyataan bahwa banyak guru kita yang hanya menang teori, pintar ngomong tetapi sama sekali tidak terlihat kegatannya yang menunjukkan eksistensi dirinya sebagai kaum intelek. Bahkan, sungguh sangat memalukan terlalu banyak guru yang untuk melengkapi persyaratan uji sertifikasi profesinya ternyata harus melakukan upaya rekayasa terhadap berkas atau portofolio yang hendak dinilai sebagai persyaratannya.
Berbagai cara dilakukan untuk dapat memenuhi persyaratan untuk mengikuti proses sertifikasi tersebut, tetapi sangat tidak mengenankan hati. Guru yang bertugas untuk membimbing anak para sikap dan pola hidup positif ternyata memberikan contoh negatif pada masyarakat luas.
Jika saja semua guru menyadari bahwa proses ujia sertifikasi ini merupakan upaya untuk mengukur kelayakannya sebagai guru yang sesuai dengan tuntutan keprofesionalitasan, maka hal tersebut tidak bakal terjadi. Masalahnya hanya karena para guru kadung keblinger dengan iming-iming akan mendapatkan tambahan gaji satu kali lipat sehingga terjadi penyimpangan seperti ini! Hal ini-pun seharusnya menjadi tanggungjawab para pembuat kebijakan, mengapa kebiajakan tersebut harus dikaitkan dengan hasil tersebut, seharusnya jika memang tujuannya untuk mengukur dan menentukan kelayakan seseorang menajdi guru yang profesional, tentunya tidak perlu dikaitkan dengan iming-iming segala. Akibatnya banyak guru yang tujuan mengikuti sertifikasi adalah untuk meraih iming-iming dan bukan untuk kelayakan profesi!
Ach. sebenarnya siapa yang salah?!

Selasa, 22 Juli 2008

Pendidikan butuh kebersamaan

Tahun pelajaran baru sudah mulai berjalan selama seminggu. Anak-anak sudah mulai sibuk dengan pelajaran yang diberikan oleh para gurunya. Mereka begitu antusias mengikuti setiap kegiatan atau proses pemelajaran yang dibimbing oleh sang guru. Sejak jam pertama hingga jam ke delapan mereka nampak begitu bersemangat, walau kelihatan begitu lelah tetapi tetap bersemangat. Maklum beberapa hari yang lalu mereka belajar di rumah alias libur belajar di sekolah.
Ketika menyaksikan betapa bersemangat anak-anak mengikuti proses pemelajaran, maka tumbuh kepercayaan did alam hati bahwa dengan material seperti ini, maka kemungkinan tercapainya tujuan pemelajaran menjadi semakin besar. Jangankan patokan 5,50, lebih saja kiranya dapat dicapai!
Setelah melihat kondisi seperti ini, maka selanjutnya yang perlu diantisipasi adalah sikap dan respon masyarakat terhadap kondisi ini. Jangan sampai kejadian selama ini terulang lagi, yaitu keacuhan masyarakat terhadap anak-anak yang melalaikan tugas belajar dan kongkow di pinggir jalan atau di tempat-tempat umum. Masyarakat seharusnya ikut peduli dengan secara bersama-sama membiasakan anak-anak berada di sekolah dan tidak ngabur dari sekolah/
Demikian juga halnya dengan aparat ketertiban yang ada di daerah, rasanya tidak ada masalah jika setiap saat dilakukan razia untuk anak-anak yang ngabur dari jam belajar. Ada banyak pihak yang seharusnya secara sadar ikut menangani hal seperti ini, tidak secara utuh menyerahkan pada sekolah sebab tidak mungkin sekolah memantau anak-anak hingga keluar lingkungan sekolah atau di masyarakat.

Rabu, 16 Juli 2008

Budaya Konvoi Dan Coret-Coret, Untuk Apa?

Duh, senang sekali hati saat mengetahui telah lulus dalam mengikuti ujian nasional. Rasanya segala beban yang menghimpit hati sirna begitu saja. Bongkahan bebatuan yang sejak persiapan, pelaksanaan danpasca ujian nasional terdepak oleh kabar kelulusan yang dapat diperoleh dari sekolah atau dari internet.

Dan, setiap kemenangan memang pantas untuk dirayakan. Keberhasilan atau kelulusan adalah sebuah kemenangan melawan sekian banyak soal ujian, maka sudah selayaknya jika dirayakan sebagai ungkapan kegembiraan dan kebahagiaan.

Tetapi, permasalahan timbul saat kita melihat model perayaan kegembiraan yang diungkapkan oleh anak-anak kita. Mereka seakan bukan anak-anak kita yang kemarin begitu manis saat kita berada di ruang kelas mereka dan menjelaskan materi pelajaran yan menjadi jatah belajar mereka.

Tiba-tiba saja mereka telah berganti tampilan sangat berlainan dengan kesehariannya. Mereka telah menjadi orang lain. Para guru sudah tidak mengenal pribadi masing-masing.

Wajah manis, imut-imut, pola berpakaian yang rapi dan bagus, semua telah hilang! Bahkan sopan santun yang selama ini tlah kita tanamkan selama mereka belajar sejak kelas satu hingga kelas tiga sudah hilang!

Yang muncul adalah sikap yang amburadul. Model rambut yang awut-awutan, baju yang penuh coret-coret, tanda tangan, bahkan wajah dan rambutnya tidak lepas dari semprotan cat dengan warna warni yang semarak. Baju yang sebenarnya masih bagus, tiba-tiba saja telah menjadi baju penuh semprotan cat dan torehan tinta spidol dengan berbagai macam tulisan atau tanda tangan

Mereka begitu gembira. Mereka bersemangat. Bahkan sepeda motor, mereka berkonvoi keliling kota, memenuhi jalan raya, tentunya mengganggu pengguna jalan yang lain. Lalu lintas-pun menjadi macet. Semua tidak berdaya. Bahkan tidak jarang orang berpendapat hal tersebut wajar saja, kan cumin sekali dalam setahun!

Suara ‘geberan’ gas dan sikap mereka pada saat mengendarai motor sungguh sangat ‘nggegirisi’, menakutkan dan mengkawatirkan bagi keselamatan diri sendiri ataupun keselamatan orang lain.

Dan, seringkali kegiatan ini ternyata memakan korban dari mereka juga. Berapa banyak mereka yang termakan oleh ‘keberanian’ mereka ‘beraksi’ di jalan raya untuk mengungkapkan kegembiraan karena lulus.

Tapi masalahnya adalah signifikansi model perayaan seperti itu dengan budaya bangsa ini. Apakah hal ini menggambarkan terjadinya pergeseran nilai pola kehidupan bangsa ini? Bukankah yang melakukan ‘atraksi’ ini adalah kaum muda, generasi muda yang notabenenya adalah calon pemimpin masa depan negeri ini! Jika para calon pemimpin seperti ini, lantas bagaimana pola hidup generasi muda di masa depan?! Bagaimana kehidupan bangsa ini dimasa depan?!

Masih ada yang positif!

Ya. Dari kegiatan peryaaan kelulusan yang hinggar bingar di jalan raya oleh suara knalpot yang dipasang tanpa sarangan, ternyata masih ada yang bertindak positif.

Patut diacungi jempol! Dua jempol dari dua tangan. Tindakan positif tersebut adalah tekad mewariskan baju seragam untuk yang memerlukan, yaitu adik-adik kelas atau orang-orang yang memang sangat membutuhkan seragam sekolah tersebut.

Pada kenyataannya, masih terlalu banyak anak yang berkekurangan, termasuk pakaian seragam. Jika saja pakaian yang masih layak pakai dikumpulkan dan diberikan kepada yang membutuhkan, maka itu jauh lebih bermanfaat daripada dicoret-coret sekedar sebagai kenangan tetapi selanjutnya pakaian tersebut tidai dapat dipakai lagi!

Bukankah di sekolah ada organisasi yang ditangani siswa, untuk siswa, yaitu OSIS? Seharusnya pada saat ini, OSIS bertindak cepat dan proaktif untuk mengumpulkan seragam kelas III yang sudah tidak terpakai lagi. Selanjutnya seragam yang terkumpul dibagikan lagi kepada anak-anak yang membutuhkan seragam.

Sudah saatnya kita mengaktifkan dan memberi kesempatan pengurus OSIS untuk melakukan kegiatan amal ini. Ya, ini adalah kegiatan amal yang diselenggarakan oleh OSIS terhadap anak kelas III yang hendak meninggalkan sekolah.

Tentunya, jika hal ini dilakuakn secara sistenatis dan terorganisir, maka tidak perlu ada kegiatan coret-coret yang hanya menjadikan pakaian layak pakai tersebut terbuang sia-sia.

Jika semua anak menyadari betapa pentingnya seragam yang mereka coret-coret bagi orang lain, maka kesulitan yang dihadapi beberapa orang anak dapat diatasi dan ketertiban seragam dapat dicapai.

Memperhatikan dua hal tersebut, maka setidaknya kita menyadari bahwa seharusnya kegiatan konvoi ataupun coret-coret seragam tidak perlu dilakukan oleh mereka yang lulus. Lebih baik bersujud syukur dan menyumbangkan seragam untuk teman teman atau adik kelas yang membutuhkannya.

Hal inilah yang seringkali dilupakan bahkan diabaikan oleh banyak anak. Mereka tenggelam dalam suka cinta yang begitu menggelegak di permukaan hidup. Memang, seringkali saat suka cita datang menghampiri hidup kita, maka pada saat itu kita jadi lupa pada banyak hal, termasuk dalam hal ini adalah rasa kesetiakawanan dan interaksi sosial positif!

Untuk itu, yang kita perlukan adalah keseragaman langkah dari akar rumput hingga pucuk dedaunan agar secara aktif menyampaikan saran-saran positif bagi anak didik agar tidak melakukan hal-hal yang tidak berguna dan membahayakan keselamatan diri sendiri, apalagi orang lain.

Semoga, tahun depan kebiasaan ini tidak lagi terulang dan berubah menjadi kegiatan amal dari para lulusan untuk memberikan pakaian seragamnya untuk adik kelasnya yang tentunya membutuhkan seragam tersebut. Semoga

Guru harus mampu mengembangkan kontrol naluri dirinya

Di dalam proses pembelajaran, seorang guru memegangkendali utuh dalam memberikan arahan, bimbingan, dan pendampingan anak dalam proses mem-persiapkan diri menuju masa depan yang lebih baik dari kondisi sekarang. Dengan demikian, maka seorang guru dituntut untuk mempunyai kesiapan yang matang sehingga proses pembimbingan dan pendampingan yang dilakukannya benar-benar efektif dan efisien. Tanpa kemampuan yang cukup, tentunya orangtua menjadi ragu menyerahkan proses pembelajaran anak-anaknya kepada sang guru.

Guru haruslah mempunyai tingkat kematangan emosi yang sudah mapan sehingga setiap saat mampu meghadapi permasalahan dan menyelesaikan permasalahan tersebut dengan baik. Hal ini menunjukkan tingkat kecerdasaan seorang guru dalam pola pemikiran kreatif, inovatif dan selalu tanggap terhadap kondisi kehidupan masyarakat. Dalam kondisi yang lainnya, seorang guru harus selalu tanggap terhadap setiap perubahan paradigma yang terjadi dalam ke-hidupan masyarakat dan langsung menentukan langkah efektif untuk meng-hadapi permasalahan tersebut. Kemampuan ini selanjutnya kita sebut sebagai kontrol naluri seorang guru.

Kontrol naluri diartikan secara bebas sebagai suatu keadaan yang dimiliki oleh seorang guru dalam menanggapi setiap kondisi yang timbul di dalam proses pembelajaran yang dilaksanakannya. Guru harus mempunyai kemampuan untuk melakukan langkah-langkah prediksi ataupun langkah-langkah penyelesaian masalah yang mungkin muncul di dalam proses pembelajarannya. Guru harus mampu memprediksi sekaligus mengambil solusi yang tepat dalam menyelesai-kan setiap permasalahan yang timbul di dalam proses pembelajaran yang dipandunya. Bahkan jika diperlukan seorang guru harus mempunyai kemam-puan mengembangkan proteksi diri di dalam diri anak-anak didiknya sehingga secara otomatis anak mempunyai kesanggupan untuk membentengi diri ter-hadap setiap permasalahan hidup. sama seperti antivirus yang kita pasang di sirkuit computer kita dengan kemampuan up grade sendiri secara otomatis!

Selanjutnya kontrol naluri ini dapat kita katakan sebagai responsibilitas seorang guru terhadap setiap fenomena yang muncul dalam kegiatan pembelajarannya. Daya tanggap seorang guru terhadap setiap peristiwa yang mungkin timbul ataupun yang sudah timbul di dalam proses pembelajarannya. Dan, selanjutnya diikuti oleh langkah-langkah konkrit untuk menyelesaikan setiap permasalahan secara efektif dan efisien. Bagaimana seorang guru dapat menganalisa setiap kejadian yang ada di dalam proses pembelajaranya, khususnya berkaitan dengan eksistensi anak didik dalam menggapai tujuan pembelajarannya. Dengan kemampuan tersebut, maka seorang guru mampu memprediksi setiap permasalahan yang bakal timbul pada saat mempelajari konsep materi pembelajaran dan selanjutnya memyusun konsep-konsep baru untuk proses pengayaan bagi peningkatan kemampuan anak didik.

Guru harus segera mengembangkan kontrol naluri ini sehingga secara cepat dapat melakukan langkah-langkah konkrit dalam menyelesaikan setiap permasalahan yang tumbuh dalam kegiatannya. Dalam hal ini, kontrol naluri juga mengandung pengertian tingkat kepedulian guru terhadap lingkungannya, termasuk dalam hal ini adalah lingkungan anak didiknya. Seberapa besar tingkat kepedulian seorang guru terhadap lingkungannya, menunjukkan seberapa tinggi tingkat kontrol naluri guru terhadap lingkungannya. Tentu saja, kita me-ngatakan bahwa guru yang mempunyai kepedulian terhadap lingkungannya adalah guru-guru yang mempunyai kontrol naluri yang bagus.sedangkan guru-guru yang tidak mempunyai atau sulit melakukan prediksi terhadap kondisi kehidupan di sekitarnya, khususnya berkaitan dengan proses pembelajaran, maka mereka kita kelompokkan pada guru dengan tingkat control dirinya rendah. Dan, jika ternyata kondisi tersebut kita alami, maka sudah seharusnya kita secara intens mengembangkan diri agar control diri kita berkembang secara maksimal dan selanjutnya dipakai untu mengembnagkan berbagai kerasi dan inovasi pembelajaran agar anak didik memperoleh pengetahaun, keterampilan dan transfer attitude yang maksimal. Dan, hal itulah yang terpenting bagi prosespembelajaran efektif.

Menyadari hal tersebut, maka sudah menjadi suatu keharusan bagi se-orang guru untuk secara intens berusaha mengembangkan diri menuju pengu-asaan kontrol naluri yang bagus tersebut. Setidaknya jika seorang guru mempunyai tingkat pengontrolan naluri yang bagus, maka segala permasalahan dapat segera diselesaikan tanpa harus menunggu masalah tersebut berkembang dan mengancam kondisi. Oleh karena itulah, maka seorang guru harus belajar memperhatikan setiap kondisi anak didik, mengenal secara mendalam kondisi anak didik yang meliputi segala hal yang berhubungan dengan anak didik, misalnya sikap hidupnya, latar belakang keluarganya dan kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan anak didik dalam kehidupannya. Hal ini tidak terlalu sulit untuk dilakukan sebab semua itu dapat secara langsung diamati guru dalam pola interaksi edukasi yang dilakukan sehari-hari.

Kontrol naluri merupakan sikap cepat tanggap seseorang terhadap setiap indikasi ataupun fenomena yang terjadi di dalam kehidupan yang ada di se-kelilingnya. Dengan kontrol naluri ini, maka seseorang mempunyai kepedulian yang cukup tinggi terhadap kondisi lingkungannya. Kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan, khususnya terhadap anak didik inilah yang sesungguhnya merupakan faktor penting untuk dapat memposisikan anak didik selalu hadir secara utuh di dalam proses pembelajaran. Jika anak didik merasa diperhatikan secara intens, maka sebagai responnya mereka-pun akan memberikan perhatian terhadap semua kegiatan yang dilakukan guru. Mereka pasti merasa perlu memperhatikan semua kegiatan yang dilakukan guru dan selanjutnya memberikan kontribusi yang baik bagi kegiatan tersebut. Bagaimanapun kita harus menyadari bahwa anak didik kita adalah pribadi-pribadi yang masih membutuhkan perhatian sangat tinggi sebab kondisi kejiwaannya yang masih labil, dalam arti masih mudah terombang-ambing oleh pengaruh kehidupan di sekitarnya sehingga seringkali melakukan kesalahan dalam memilih konsep kehidupan bagi dirinya. Oleh karena itulah, maka diperlukan guru yang mempunyai control naluri terhadap kondisi anak didiknya secara baik.

Jika guru mempunyai kontrol naluri yang bagus, maka apapun yang dilakukan anak didik dapat segera diketahui oleh guru dan selanjutnya segear ditangani. Dengan kondisi seperti ini, maka setiap permasalahan segera ter-selesaikan sebelum masalah tersebut berkepanjangan. Setidaknya guru telah mempunyai bekal untuk dapat memahami kondisi kejiwaan anak didik pada saat menempuh pembelajaran kependidikan. Bekal ilmu kejiwaan yang diterima guru pada saat menempuh pendidikan keguruan merupakan sesuatu yang sangat signifikan terhadap pola pembelajaran yang diampunya. Oleh karena itulah, sebagai seorang guru sangat perlu memahami konsep-konsep kejiwaan, khususnya berkaitan dengan anak didik. Dengan pemahaman konsep kejiwaan, maka setidaknya seorang guru dapat memprediksi setiap kondisi yang di-hadapinya di kelas. Hal ini merupakan kemampuan mendasar yang seharusnya dimiliki oleh seorang guru agar proses pembelajaran yang diampunya dapat berjalan maksimal. Sementara maksimalitas proses tergantung pada maksimali-tas keterikutan anak didik didalam proses pembelajaran. Jika anak didik maksimal dalam mengikuti proses pembelajaran, tentunya proses pembelajaran dapat berlangsung sesuai dengan tujuan pembelajaran yang disusun oleh guru dalam program pembelajarannya. Tetapi, jika anak didik tidak mengikuti proses pembelajaran secara maksimal, tentunya hal tersebut tidak berarti apa-apa.

Sebenarnya, didalam sebuah proses pembelajaran, peranan guru sedemi-kian rupa sehingga sudah seharusnya mengetahui secara detail kondisi anak-anaknya. Setiap saat guru berinteraksi dengan anak didik, baik dalam interaksi di kelas maupun di sekolah secara umum. Setiap saat mereka berkomunikasi dan bergaul sehingga sudah barang tentu kondisi pergaulan guru dan anak didik sedemikian rupa sehingga diketahui sifat-sifat khusus pada setiap anak didik, jika guru benar-benar memperhatikan kondisi anak didiknya, setidaknya sebagian besar sikap dan sifat anak didik diketahui oleh guru, apalagi untuk anak-anak dengan sikap dan sifat-sifat khusus, misalnya kenakalannya tinggi atau kepandaianya diatas rata-rata. Mereka adalah kelompok anak-anak yang gampang sekali dikenali oleh guru. Dalam hal ini ada tiga kelompok anak yang mudah sekali dikenali oleh guru, yaitu anak yang pandai, anak yang tidak pandai atau bodoh, dan anak yang nakal. Umumnya guru segera respon jika melihat anak-anak yang termasuk dalam kelompok tersebut. Hampir semua guru mengenal anak-anak yang termasuk dalam kelompok tersebut. Anak yang nakal dikenal karena kondisi negatif yang diciptakannya dalam interaksi edukatif di sekolah. Anak pandai dan anak bodoh juga demikian, sebab kedua kelompok anak ini berkaitan dengan prestasi akademik sehingga semua guru mengenal mereka. Sedangkan, yang tersulit adalah memperhatikan kelompok anak-anak yang berada di tengah-tengah kelompok tersebut atau kelompok anak-anak dengan kondisi sedang-sedang saja, pandai tidak, bodoh juga tidak, nakal tidak, menurut juga tidak. Hal ini sungguh sangat merepotkan bagi guru untuk mengklasifikasikannya apalagi untuk menghafal satu persatu dari mereka.

Begitulah seharusnya yang kita lakukan untuk dapat menggugah semangat belajar anak didik sehingga setiap kali kita memberikan pendamping-an dalam proses pembelajaran, maka hasil yang diperoleh dari proses tersebut adalah hasil maksimal. Anak didik menyadari tugas dan kewajibannya di dalam proses pembelajaran dan ikut berperan aktif sehingga proses dapat berlangsung dengan sebaik-baiknya. Jika anak didik mampu hadir secara utuh di dalam proses pembelajaran, maka proses pembelajaran pasti berhasil. Dan, kontrol naluri guru yang terbaik memberikan kesempatan terbaik bagi anak didik untuk mengembangkan diri secara maksimal. Dan, semua itu merupakan tujuan dari proses pendidikan dan pembelajaran yang kita selenggarakan.